www.megacareerexpo.com


Nge-branding Diri by Adhi Trisnanto

Artikel 1

Tanggal : 26 Juni 2017, Posted by Adhi Trisnanto


Disadari atau tidak, masing-masing kita punya brand, itulah yang disebut personal brand. Nama kita adalah brand name kita, yang (umumnya) dibuat oleh orangtua kita masing-masing. Kadang tidak mudah bagi orangtua menemukan nama yang dianggapnya sesuai, mampu mencerminkan harapan-harapan tadi. Tak jarang ilham nama itu tak kunjung datang, bahkan setelah berhari-hari bayi lahir. Nama mencerminkan harapan orangtua terhadap masa depan sang anak.

Sama halnya dengan branding yang lain, personal branding tidak sebatas brand name. Sekedar nama saja tidak akan mampu menciptakan persepsi yang tepat dari orang lain tentang diri kita. Nama belum cukup untuk menghadirkan sosok kita secara utuh: perilaku kita, pikiran kita, kepribadian kita, karakter kita, nilai-nilai yang kita anut, kemampuan yang kita miliki. Kita perlu nge-branding diri kita setiap saat, terutama pada saat-saat kritis dimana orang-orang perlu mengenal, memahami kita lebih baik. Seorang yang mau mencalonkan diri menjadi anggota legislatif, atau kepala daerah, perlu melakukan personal branding. Demikian pula seorang yang mau menembak lawan jenis yang diincarnya sebagai calon pendamping hidup. Seorang yang mau melamar pekerjaan juga perlu melakukan personal branding.

Tindakan personal branding yang paling awal harus dilakukan oleh pencari kerja adalah pada saat membuat surat lamaran. Ketika jumlah lowongan kerja (demand) lebih kecil dari angkatan kerja (supply) sudah bisa dipastikan pengumuman atau iklan lowongan kerja akan diserbu oleh demikian banyak orang yang membutuhkan pekerjaan. Yang akan dilakukan bagian personalia pembuka lowongan kerja pertama-tama pastilah melakukan seleksi surat-surat lamaran yang masuk. Jumlah surat itu bisa puluhan bahkan ratusan untuk satu-dua lowongan. Surat yang sangat biasa hampir pasti tidak akan mampu menarik perhatian, dan cenderung akan bernasib buruk masuk ke mesin pencacah kertas. Nah, pada saat kritis seperti ini kita perlu nge-branding diri. Buatlah lamaran yang lain dari yang lain: isinya, bentuknya, warnanya, bahasanya. Semua unsur lamaran ini harus kita buat dengan cermat sehingga mampu merebut perhatian penseleksi awal. Jangan sampai kita membuat surat lamaran yang demikian kering tanpa daya tarik, jangan sampai kita membuat riwayat hidup yang juga kering, terutama buat fresh graduate yang belum punya pengalaman apapun sehingga tidak tahu apa yang harus ditulisnya. Kita perlu mengatur strategi menemukan hal-hal apa yang kita miliki yang punya daya tarik selain secarik ijasah. Misalnya, kita bisa bercerita tentang pengalaman kita diluar pengalaman belajar, seperti pengalaman berorganisasi. Kita bisa bercerita tentang cita-cita kita, dan apa yang sudah kita lakukan dalam mengejar cita-cita tersebut. Kita bisa bercerita tentang hobby kita (tentu saja yang positif) dan apa yang kita pikir tentang manfaat hobby itu. Nah, lamaran tidak harus berbentuk lembaran-lembaran kertas, tapi bisa saja kita bentuk berupa booklet, yang tidak saja berisi tulisan atau ketikan, tapi juga foto-foto kegiatan, dokumentasi karya-karya yang pernah kita buat. Kita bisa memanfaatkan warna, tidak harus semuanya hitam-putih, kita bisa memainkan gaya bahasanya sampai ke gaya semacam curhat (dengan menghindari nada meminta-minta) tentang apa yang kita inginkan. Buatlah semuanya itu dengan rapi, bahkan kalau perlu dengan dimodali, ngeprint color, binding, dan lain-lain. Apa boleh buat, pada titik awal lamaran adalah wajah kita di depan pemilik kerja. Jangan biarkan tampil lugu, bersoleklah.

Point of Contact yang kedua adalah saat dipanggil wawancara. Nah, momen ini harus kita posisikan sebagai kesempatan emas untuk membuktikan dan memperjelas apa yang telah kita sampaikan melalui surat lamaran. Pertama-tama perhatikanlah tampilan. Tampilan harus rapi dan memberi kesan bersih, percaya diri mampu memenuhi kriteria yang disyaratkan. Yang dimaksud tampilan adalah segala sesuatu yang tertangkap oleh indra pewawancara kita: tampilan fisik, perilaku. Bicaralah dengan jelas dan tegas, jangan pernah menunjukkan keraguan ketika kita menjawab pertanyaan. Kendalikan volume suara, intonasi. Kendalikan pula bahasa tubuh: gestur, fasial, postur. Sopan tanpa berlebihan, kalau punya portofolio bawalah dan tunjukkanlah dengan rasa bangga.

Nah, kalau dua titik kritis itu bisa kita lalui, berarti kita telah mengawali proses ini dengan baik. Insya Allah proses berikutnya akan lebih mudah kita lalui.